Saman adalah pemenang sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Ketika pertama kali terbit , Saman dibanyangkan sebagai fragmen dari novel pertama Ayu Utami yang akan berjudul Laila Tak Mampir di New York. Dalam proses pengerjaan, beberapa sublot berkembang melampaui rencana. Tahun 2001 lanjutannya terbit sebagai novel terpisah berjudul larung. Hingga pertengahan 2008 saman telah di terjemahkan dalam enam bahasa asing: Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, prancis, dan Czech.
Ayu Utami lahir di Bogor, 21 November 1968, besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas sastra Universitas Indonesia. Ia pernah menjadi wartawan di Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutup Tempo, Editor dan Detik di masa Orde Baru ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memperotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal pemberdayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Karena Karyanya meluaskan batas menulis dalam masyarakatnya, ia mendapat Prince Clause Award pada tahun 2000.
Dalam penceritaannya, novel ini awalnya menggambarkan tentang konflik atau pertikaian yang terjadi pada suatu keadaan di pertambangan minyak bumi antara Rosano yang menjadi kepala pengeboran dan Sihar yang tentu menjadi bawahannya. Sihar membeci Rosano karena kesok tahuan akan hal yang berujung dengan kecelakaan dalam bekerja dan meminta korban nyawa. Sedangkan tokoh utama dalam novel ini adalah Saman. Saman sendiri di gambarkan dalam pencertiaannya sebagai orang yang sangat religius, pekerja keras dan lebih mementingkan kepentingan bersama. Dalam novel ini kiranya banyak juga mengupas tentang hubungan badan di antara tokoh-tokohnya. Ada hal yang membuat laila ingi pergi bersama sihar ke New york. Yahh, di sana karena adat budayanya sedikit berbeda dengan budaya indonesia di mana hubungan badan bila ke dua orang saling suka maka dalam tanda kutip bebas melakukannya tanpa menikah terlebih dahulu.”Barang kali saya sudah letih dengan segala yang menghalangi hubungan kami di indonesia. Capek dengan nilai-nilai yang kadang menjadi teror. Saya ingin pergi dari itu semua, dan memberikan hal-hal yang kami inginkan terjadi. Mendobrak yang selama ini menyekat hubungan saya dengan sihar. Barangkali.” (Hal. 29). Dan dengan menggebu-gebunya, serasa laila ingin sekali bercinta dengan sihar.
Tapi dalam pertengahan ceritanya. Novel ini akan mengupas tentang bagai mana penindasan orang yang lebih tinggi derajatnya dalam ukuran uang terhadap kaum yang di anggap orang bawahan. Dalam hal inilah tokoh Athanasius Wisanggeni yang tak lain adalah Saman muncul sebagai orang yang membela hak-hak orang yang tertindas. Saman sendiri adalah orang yang menggerakan mata masyarakat akan perlunya sebuah keadilan yang harus di tegakan, walau bagai mana derajat orang itu kalau memang salah, ya harus di hukum. Saman sendiri adalah mantan seorang pastor yang sekarang berubah karena hawa nafsu manusia yang ada di tubuhnya kembali tumbuh.
Novel karya Ayu Utami ini kental sekali dengan hubungan seks bebas dengan banyaknya penggunaan kata-kata cukup mencengangkan dalam telinga penulis. Seakan ingin menampilkan hal-hal yang sarat akan hubungan badan antara manusia. Seperti yang penulis kutip berikut ini “Dan aku menamai keduanya puting karena merupakan ujung busung dadamu. Dan aku menamainya kelentit karena serupa kontol yang kecil”.(hal. 198). Inilah yang membuat penulis tercengang, mengapa tulisan ini bisa tercantumkan di dalam sebuah novel. Mungkin inilah salah satu daya tarik pengarang dalam menyajikan sebuah karya agar para pembacanya lebih tertarik untuk membacanya. Dan Ayu Utami secara tidak langsung mungkin ingin menjelaskan bahwa seks yang bisa merusak masa depan dan nama baik keluarga, Seperti tokoh Cok “Akhirnya sepucuk surat datang dari Cok, begini kutipannya: Tala yang baik… Mama dan papah menemukan kondom dalam tasku.. aku Cuma tulis surat ini kepada mu. Soalnya, yasmin dan laila bakal shock mendengar ini. Jangan-jangan nanti mereka tidak mau kenal lagi dengan aku”… Lebih dari itu penulis nampaknya kurang paham dengan keadaan saman sendiri. Kita bisa melihat bagai mana kalimat yang ada di awal novel merupakan awal yang membingungkan karena kemana pengarang akan membawa cerita ini. Tapi memang tutur bahasa dalam awal novel ini cukup menarik, “Di taman ini, saya adalah seekor burung. Terbang beribu-ribu mil dari sebuah negeri yang tak mengenal musim, berimigrasi mencari semi, tempat harum rumput bisa tercium, juga pohon-pohon yang tak pernah kita tahu namanya, atau umurnya”(Hal. 1). Selebih itu sekiranya pengarang menggunakan bahasa yang sangat terbuka yang seperti tadi saya kutip di atas. Disini juga pengarang menceritakannya lengkap dengan tanggal sebagai waktu yang di gunakan sebagai suatu kejadian. Dan pada akhir novel ini terdapat kegiatan surat menyurat antara Saman dengan Yasmin karena jarak yang memisahkan mereka berdua. Antara New York dan jakarta. Dan lengkap pula dengan penanggalan waktunya.